Hanifah Sebut Nilai Pancasila Mulai Terkikis

Pesawaran – Anggota DPRD Lampung, Hanifah, menyosialisasikan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Desa Banjaran, Kecamatan Padang Cermin, Pesawaran, Selasa (3/6/2025).

Hanifah menyebut, saat ini nilai-nilai Pancasila mulai terkikis. Karena itu, DPRD Lampung menginisiasi untuk menggaungkan Pancasila melalui sosialisasi ini.

Melalui kegiatan ini, dia berharap warga Banjaran mampu kembali memulai budaya bangsa, dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian.

BACA JUGA  Mewakili Gubernur, Kepala Bappeda Provinsi Lampung Mulyadi Irsan Buka Musrenbang RKPD Tahun 2024 Kabupaten Lampung Timur

“Jelas dan nyata, bahwa nilai-nilai Pancasila terkikis lantaran terkontaminasi zaman, dalam hal ini handphone (HP). Penggunaan HP tak tepat sasaran,” kata Hanifah.

Pengaruh HP, kata Sekretaris Komisi I DPRD Lampung itu, sangat jelas, nyata, dan berbahaya.

Misalkan, kata dia, kebiasaan saat ini anak-anak menangis, kaum ibu pasti memberikan HP.

Menurut Hanifah, ketika duduk bersama dalam rumah, masing-masing main HP, tak ada komunikasi dan berbincang antara anak, orang tua, kakak dan beradik.

BACA JUGA  Jalan Rusak dan Masalah Irigasi Menjadi Konsen Masyarakat Pada Reses Anggota DPRD Lampung Yusnadi

“Tolong kurangi menggunakan HP. Minimal tak membiasakan anak ketika menangis meminta HP,” kata Ketua Muslimat NU Pesawaran ini.

Nawawi, narasumber kegiatan, mengatakan Pancasila ialah ideologi. Ideologi ialah keyakinan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia menegaskan, Pancasila ialah alat pemersatu anak bangsa, yang tidak membedakan ras, agama, suku, dan budaya.

BACA JUGA  Wagub Chusnunia Selaku Ketua Kwarda Lampung Menjadi Narasumber Workshop Penguatan Karakter di era Digital

“Kalau kita tidak berideologi Pancasila,bsemua tatanan kehidupan tidak ada batasan mengikat,” kata ia lagi.

Nawawi menambahkan, Pancasila bukan hanya dasar negara, melainkan juga mengatur tata hidup pada lingkungan sekitar.

“Kita hidup berdampingan dengan sejumlah agama, ras, budaya dan suku,” pungkasnya. (*)