Untuk itu, GNPHI Lamtim berharap proses Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) puskesmas bisa terus berlanjut. Gaung BLUD Puskesmas sebelumnya tercetus oleh Bupati Lamtim dijabat Chusnunia (Nunik) yang merupakan kakak kandung Jihan.
“BLUD itu waktu Bu Nunik jadi bupati. Dari perawat dulu sudah mendapat pelatihan BLUD di Padang, untuk coba diaplikasikan di Lamtim. Ibu Nunik mengeluarkan Perbup tentang BLUD. Tapi belum perekrutan ibu Nunik sudah jadi Wagub. Waktu itu sempat pendaftaran, perekrutan, tapi belum sampai tes,” jelas Agus –perawat lainnya.
Karena itu, ia berharap proses TKS menjadi tenaga kontak BLUD terus berlanjut. Pasalnya, hingga kini belum ada kejelasan proses perekrutan tersebut.
“Jadi belum sempat tes, ganti bupati lalu ter-cancel dulu dengan pengganti ibu Nunik. Sampai pergantian bupati sekarang masih mengambang, cuma sampai pendaftaran saja, belum sampai tes,” ujarnya.
Menurut dia, baru beberapa puskesmas di Lampung Timur yang berstatus Blud. Seperti Puskesmas Way Jepara dan Braja Saka.
“Baru beberapa puskesmas, yang kepala puskesmasnya berani saja mengangkat Blud, ada yang tidak berani, ada yang tunggu juknis. Yang sudah Blud itu baru Puskesmas Way Jepara dan Braja Saka. Untuk gaji masih dibagi rata semua TKS. Kalau sesuai Perbup untuk gaji D3 misalnya harusnya, Rp1,250 juta, tapi karena kemampuan puskes tidak sampai segitu, maka dibagi rata,” pungkasnya. (rera)











