Pemprov Lampung Perkuat Koordinasi dan Kesiapsiagaan Hadapi Aktivitas Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Pemerintah Provinsi Lampung memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan menghadapi aktivitas vulkanik gunung Anak Krakatau.

ReferensiRakyat.CO.ID – Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela memastikan Pemerintah Provinsi Lampung terus meningkatkan kesiapsiagaan dan koordinasi dalam menghadapi aktivitas Gunung Anak Krakatau yang hingga Senin, 7 September 2026 masih berada pada Status Level III atau Siaga.

Hal tersebut disampaikan Wagub Jihan saat melakukan monitoring perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau di Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Provinsi Lampung.

Monitoring yang diikuti perangkat daerah dan instansi terkait untuk mendapatkan perkembangan terbaru mengenai aktivitas gunung api, sebaran abu vulkanik, kondisi kesehatan masyarakat, transportasi, serta pelayanan publik.

Berdasarkan hasil pemantauan pada Minggu, 6 September 2026 pukul 20.23 WIB terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau yang tercatat sebagai satu kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 58 mm dan durasi 44 detik.

Dalam periode pengamatan enam jam, aktivitas kegempaan juga tercatat berupa 50 kali gempa Low Frequency, 61 kali gempa Hybrid/Fase Banyak, serta satu kali gempa tremor menerus.

Lalu pada Senin, 7 September 2026, tercatat dua kejadian gempa di wilayah Selat Sunda. Gempa pertama berkekuatan 3,1 pada pukul 00.05 WIB dengan kedalaman 11,7 kilometer, sedangkan gempa kedua berkekuatan 3,0 pada pukul 04.18 WIB dengan kedalaman 81,1 kilometer.

Sementara hasil pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau pada periode pukul 00.00 hingga 06.00 WIB mencatat empat kali gempa hembusan, 17 kali gempa harmonik, 34 kali gempa Low Frequency, dan 44 kali gempa Hybrid/Fase Banyak. Kondisi gelombang laut saat pemantauan dilaporkan tenang.

Memasuki periode pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, Gunung Anak Krakatau masih berada pada Status Level III atau Siaga.

BACA JUGA  Gubernur Lampung Ajak PLN Bangun Lampung

Kondisi gunung terpantau tertutup kabut hingga mendung dengan cuaca berawan.

Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut, sementara aktivitas kegempaan masih berlangsung.

Berdasarkan pemantauan citra satelit Himawari-9 menggunakan citra True Color dan Air Mass RGB, hingga pukul 10.00 WIB belum terdeteksi adanya awan panas dari Gunung Anak Krakatau.

Jihan mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kewaspadaan masyarakat meskipun secara visual aktivitas gunung pada waktu tertentu terlihat tenang.

“Status Anak Gunung Krakatau ini sampai dengan hari ini masih pada Level III atau Level Siaga. Meskipun beberapa waktu secara visual gunung terlihat tenang, tetapi aktivitas vulkaniknya sebetulnya belum berhenti di dalam,” ujar Jihan.

Selain aktivitas vulkanik, Pemerintah Provinsi Lampung juga memantau dampak abu vulkanik terhadap kesehatan dan kualitas udara.

Hasil pengamatan mikroskopis abu vulkanik oleh Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Lampung dengan pembesaran 100 kali menunjukkan adanya partikel kristal berukuran sekitar 5–10 mikrometer.

Partikel tersebut memiliki bentuk tidak beraturan dan cenderung tajam dengan karakteristik mineral keras dan abrasif seperti silika, sehingga berpotensi menyebabkan iritasi apabila terhirup atau terkena mata dan kulit.

“Partikel seperti ini perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, mata, maupun kulit,” kata Jihan.

Dari sisi kualitas udara, pemantauan konsentrasi sulfur dioksida (SO₂) di Bandar Lampung dan sekitarnya berada pada kisaran 212–224 µg/m³ dan masuk kategori tidak sehat.

Kondisi tersebut dipengaruhi aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau sehingga masyarakat diimbau mengurangi paparan abu vulkanik.

BACA JUGA  Gubernur Lampung akan Surati Dua Perusahaan Eksportir CPO

Jihan meminta masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak. Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat diminta menggunakan masker serta pelindung mata dan perlindungan tubuh lainnya.

“Bagi masyarakat di wilayah yang masih terdampak abu untuk dapat mengurangi aktivitas fisik di luar rumah dan menggunakan masker juga alat lindung lainnya seperti kacamata,” ujarnya.

Masyarakat juga diminta menutup pintu, jendela, ventilasi, maupun celah masuk udara lainnya untuk mengurangi masuknya abu vulkanik ke dalam rumah.

Saat membersihkan abu, masyarakat diimbau tidak menyapu dalam kondisi kering agar abu tidak kembali beterbangan.

Apabila mengalami gangguan pernapasan atau iritasi akibat paparan abu vulkanik, masyarakat diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Dari sisi pelayanan kesehatan, seluruh Puskesmas dan rumah sakit telah diminta meningkatkan kesiapsiagaan, khususnya fasilitas kesehatan di wilayah yang berpotensi terdampak.

Kesiapan mencakup tenaga kesehatan, obat-obatan, bahan medis habis pakai, oksigen, hingga sistem rujukan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dr. Djohan Lius menyampaikan, Dinas Kesehatan telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh kabupaten/kota untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan pelayanan kesehatan.

Sebanyak 15 kabupaten/kota juga telah dibagi ke dalam lima regional sistem rujukan rumah sakit. Tiga rumah sakit umum daerah milik Pemerintah Provinsi Lampung menjadi rujukan tertinggi, yakni RSUD Abdul Moeloek, RS Alamsyah Ratu Perwiranegara, dan RS Bandar Negara Husada.

Sementara itu Dinas Kesehatan Provinsi Lampung memastikan stok masker di tingkat provinsi masih memadai dan akan diprioritaskan bagi wilayah terdampak serta kebutuhan yang mendesak.

BACA JUGA  Tahap Awal, 297.525 KPM Sudah Terima Bantuan BSST

Di sektor transportasi, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Lampung Bambang Sumbogo menyampaikan bahwa layanan transportasi darat dan laut disiapkan sebagai alternatif akibat gangguan penerbangan.

Bandara Radin Inten II masih ditutup dan belum melayani penerbangan. Sementara pelayanan penyeberangan di Pelabuhan Bakauheni berjalan lancar tanpa kemacetan.

Kereta api dan angkutan jalan juga tetap beroperasi, dengan kesiapan armada tambahan apabila terjadi peningkatan kebutuhan mobilisasi masyarakat.

Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan memastikan pelayanan pemerintahan dan pelayanan publik tetap berjalan di tengah kondisi tersebut.

“Pelayanan publik, pelayanan kesehatan, dan penanganan kebencanaan tetap berjalan. Kita terus melakukan koordinasi dengan perangkat daerah, pemerintah kabupaten/kota, serta kementerian terkait,” ujar Marindo.

Untuk memastikan informasi yang diterima masyarakat tetap akurat, Pusdalops BPBD Provinsi Lampung menjadi pusat pemantauan dan informasi utama yang bersiaga selama 24 jam dalam memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Jihan meminta masyarakat tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi yang disampaikan BPBD, BMKG, dan PVMBG.

“Kepada masyarakat kami tetap menghimbau untuk tetap tenang dan jangan panik, tetapi jangan pula kita menurunkan kewaspadaan karena di dalamnya masih ada aktivitas yang fluktuatif,” katanya.

Pemerintah Provinsi Lampung melalui BPBD bersama instansi terkait akan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan memperbarui informasi sesuai hasil pemantauan.

Masyarakat diimbau mengutamakan keselamatan, membatasi aktivitas di wilayah yang terdampak abu vulkanik, serta tidak mudah mempercayai dan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.