PAGI selalu datang dengan cara yang sama. Matahari perlahan naik dari ufuk timur, burung-burung mulai bersahutan, dan kehidupan kembali bergerak seperti biasa.
Tapi, ada pagi-pagi tertentu yang terasa berbeda.
Pagi yang membuat waktu seolah berjalan lebih pelan, mengajak kita membuka kembali album kenangan yang selama ini tersimpan rapi di dalam hati.
Hari ini, 23 Juli 2026, adalah salah satu pagi itu.
Hari ini, putra kami, Uwais Faqih Al-Ghifari, genap berusia tiga tahun. Sebuah usia yang mungkin tampak kecil dalam hitungan kalender, tetapi begitu besar dalam perjalanan sebuah keluarga.
Yang membuat hari ini terasa semakin istimewa, tanggal kelahirannya selalu bertepatan dengan Hari Anak Nasional.
Seolah-olah alam sedang mengingatkan bahwa setiap anak bukan hanya milik keluarganya, melainkan juga titipan masa depan bagi bangsa.
Tiga tahun lalu, 23 Juli 2023, saat jam menunjukkan pukul 11 malam, kami menyambutnya dengan doa, harapan, dan rasa cemas yang bercampur menjadi satu.
Tangis pertamanya yang hampir menunjukkan pukul 12 malam, menjadi suara yang mengubah arah kehidupan kami.
Sejak hari itu, rumah tak lagi sekadar tempat pulang.
Rumah menjadi ruang tumbuh, tempat tawa berserakan di lantai, tempat langkah-langkah kecil mulai mengejar mimpi.
Anak-anak memang tidak pernah meminta lahir di dunia yang rumit.
Mereka hanya ingin ditemani ketika bermain, dipeluk ketika menangis, dan didengar ketika bercerita, meski cerita itu sering kali hanya tentang super hero yang sedang berkelahi atau mobil-mobilan yang kehilangan satu rodanya.
Dari merekalah kita belajar kembali tentang kebahagiaan yang sederhana.
Ya, mungkin ada kebetulan yang terasa seperti takdir. Ada pula momen yang seolah menjadi pesan bagi kami orang tua agar berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, lalu melihat lebih dekat wajah masa depan.
Tiga tahun lalu, tangisan pertama Faqih (kamu memanggilnya) menjadi suara yang mengubah banyak hal.
Waktu yang dulu terasa begitu panjang kini melesat tanpa terasa. Langkah-langkah kecilnya yang dulu masih tertatih kini berubah menjadi larian-larian kecil memenuhi rumah.
Kata-kata yang dahulu hanya berupa ocehan kini menjadi pertanyaan-pertanyaan sederhana yang sering kali justru membuat kami berpikir lebih dalam.
Anak memang memiliki cara unik mengajarkan kehidupan.
Di usia tiga tahun, dunia adalah ruang bermain yang tak berbatas. Kardus bisa menjadi kapal. Sendok menjadi mikrofon. Bahkan, tubuh kita pun menjadi kendaraan.
Kamar dan Halaman rumah berubah menjadi hutan petualangan. Imajinasi mereka melampaui apa yang mampu dipikirkan oleh kami.
Yang kami tahu hanya mengenal cinta dan kasih sayang.
Hari Anak Nasional
Hari Anak Nasional seharusnya tidak berhenti menjadi acara tahunan yang dipenuhi spanduk dan pidato.
Lebih dari itu, hari ini seharusnya menjadi refleksi bersama tentang seperti apa lingkungan yang sedang kita bangun untuk generasi mendatang.
Apakah rumah sudah menjadi tempat yang paling aman bagi mereka?
Apakah sekolah menjadi ruang yang menyenangkan untuk belajar?
Apakah media sosial yang kita gunakan setiap hari sedang meninggalkan jejak digital yang baik bagi anak-anak kita?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya akan menentukan wajah Indonesia beberapa tahun ke depan.
Sering kali kita terlalu sibuk mengejar masa depan hingga lupa menikmati masa kecil anak-anak kita.
Kita bekerja dari pagi hingga malam demi memberikan kehidupan yang lebih baik, tetapi tanpa sadar kehilangan momen ketika mereka pertama kali menyebut nama kita, pertama kali bisa mengayuh sepeda, atau pertama kali menghafal doa sebelum tidur.
Padahal, anak-anak tidak mengingat seberapa mahal mainan yang diberikan orang tuanya. Mereka justru akan mengingat siapa yang menemani mereka bermain.
Mereka tidak akan mengingat berapa besar penghasilan papanya. Mereka akan mengingat siapa yang menggandeng tangannya ketika takut.
Mereka tidak akan mengingat berapa banyak hadiah ulang tahun yang diterima. Mereka akan mengingat pelukan yang membuat mereka merasa dicintai.
Sebagai orang tua, kita tentu ingin anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas. Namun kecerdasan saja tidak cukup. Dunia hari ini justru membutuhkan generasi yang memiliki empati, kejujuran, keberanian, dan akhlak yang baik.
Semua itu tidak diajarkan melalui ceramah panjang. Ia lahir dari keteladanan.
Anak belajar bukan dari apa yang kita katakan, melainkan dari apa yang setiap hari kita lakukan.
Ketika orang tua berbicara dengan santun, anak belajar menghargai orang lain.
Ketika orang tua jujur, anak belajar tentang integritas.
Ketika orang tua meminta maaf saat melakukan kesalahan, anak belajar bahwa menjadi baik bukan berarti harus selalu benar.
Faqih mungkin belum memahami makna Hari Anak Nasional. Ia mungkin hanya tahu hari ini ada kue ulang tahun, balon, dan doa-doa yang dipanjatkan untuknya.
Tapi, suatu hari nanti, ketika ia membaca tulisan ini, semoga ia mengerti bahwa ulang tahunnya bukan hanya bertambah angka usia.
Ia lahir pada hari ketika bangsa ini mengingat pentingnya setiap anak Indonesia.
Semoga ia tumbuh bukan hanya menjadi anak yang membanggakan keluarga, tetapi juga menjadi manusia yang bermanfaat bagi banyak orang.
Menjadi pribadi yang rendah hati ketika berhasil, tetap sabar ketika diuji, dan selalu percaya bahwa kebaikan tidak pernah sia-sia.
Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, ada satu hal yang tidak boleh berubah, yakni kasih sayang orang tua kepada anaknya.
Selamat ulang tahun yang ketiga, Uwais Faqih Al-Ghifari.
Semoga setiap langkah kecilmu selalu dijaga Allah SWT. Semoga tumbuh sehat, cerdas, berakhlak mulia, mencintai Al-Qur’an, menghormati kedua orang tua, menyayangi sesama, serta kelak menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Terima kasih telah mengajarkan kami bahwa kebahagiaan ternyata sangat sederhana, cukup melihat senyum dan tawamu setiap pagi.
Dan pada Hari Anak Nasional ini, semoga bukan hanya Faqih yang berbahagia. Semoga seluruh anak Indonesia memperoleh hak yang sama untuk tumbuh, bermain, belajar, bermimpi, dan dicintai.
Karena pada akhirnya, kualitas sebuah bangsa tidak hanya diukur dari gedung-gedung yang menjulang tinggi atau angka pertumbuhan ekonominya.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga anak-anaknya, mendengar suara mereka, serta memberikan ruang agar mereka tumbuh menjadi manusia seutuhnya.
Selamat Hari Anak Nasional.
Selamat ulang tahun ketiga, Uwais Faqih Al-Ghifari.
Semoga kelak, ketika dewasa nanti, faqih dapat berkata dengan bangga bahwa masa kecilmu dipenuhi cinta, doa, dan kenangan indah dari rumah yang selalu memelukmu.
Salam cinta dari papa dan mama. (*)








